Rabu, 11 Juni 2008

Alternatif Strategy Bagi Industri IT Indonesia

Alternatif Strategy Bagi Industri IT Indonesia
Catatan: Onno W. Purbo Maret 2004

Saran bagi para pembaca, sebaiknya anda jangan menganggap terlalu serius tulisan ini, karena Onno W. Purbo hanya rakyat Indonesia biasa-biasa saja, bukan pejabat negara.

Alternatif strategi yang di usulkan di sini sebetulnya dapat di jalankan tanpa dukungan dana sama sekali dari pemerintah, alias membebani Rp. 0,- APBN. Semua dapat dilakukan secara swadaya masyarakat di Indonesia, tanpa utangan Bank Dunia, ataupun IMF. Konsekuensi dari alternative strategi yang saya bahas disini akan memungkinkan 45+ juta siswa (anak muda Indonesia) berada di Internet dan bukan mustahil mengimbas 80-100 juta orang dewasa lainnya untuk ber-Internet ria. Bukan mustahil Indonesia akan menjadi negara yang tangguh di kawasan asia tenggara mengalahkan Malaysia, Singapore & Australia.

Sialnya semua ini harus tertahan karena kepicikan para birokrat di pemerintahan (yang mungkin di pengaruhi konsultan yang salah) maupun aparatnya yang sering kali main kayu di lapangan, melakukan sweeping dll. Akhirnya semua ini meredam kemungkinan bangsa Indonesia menjadi banga yang besar. Sayang memang .. tapi itulah kenyataan hidup di negara Indonesia.

Baiklah, mari kita hitung secara sederhana melihat kenyataan yang ada. Pada saat ini ada 200.000+ sekolah diseluruh Indonesia, termasuk pesantren, madrasah, sekolah dasar, SMP, SMU, SMK. Sekolah ini mempunyai massa sekitar 45+ juta siswa (mendekati 50 juta siswa sebetulnya). Kondisi hari ini, hanya 3000+ sekolah ini yang tersambung ke Internet dengan massa siswa mendekati 1 juta orang yang tersambung ke Internet. Terutama karena usaha yang gigih dari Dr. Gatot HP (direktur menengah kejuruan di DIKNAS) yang berusaha keras mengkaitkan sekolah-sekolah ini ke Internet.

Jika kita mau secara politik mengkaitkan semua 200.000+ sekolah ini ke Internet, maka secara swadaya masyarakat sebetulnya secara automatis kita akan melihat 45+ juta bangsa ini berada di Internet. Proses penyambungan sekolah ke Internet sebetulnya mudah, karena:

  1. Siswa dapat mendanai sendiri proses penyambungan sekolah ke Internet, yang biayanya Rp. 1000-5000 / siswa / bulan.
  2. Dengan Rp. 1000-5000 / siswa / bulan, minimal sebuah sekolah dapat dengan mudah mengumpulkan Rp. 1-5 juta / bulan / sekolah dari siswanya dan cukup untuk mengcover biaya sambungan Internet (bisa dial-up) dan investasi komputernya sendiri. Arti angka ini bagi dunia industri IT & ISP sebetulnya, kita melihat dana sebesar Rp. 2-10 milyard / bulan berputar di dunia pendidikan untuk keperluan IT.
  3. Guru teknik / orang teknik akan menjadi masalah paling besar dalam pengoperasian system internet sekolah tsb. Hal ini akan dapat dengan mudah di penuhi melalui berbagai side roadshow, distribusi CD, majalah, talkshow, workshop, seminar ke berbagai pelosok Indonesia berdampingan dengan acara yang sifatnya komersial supaya terjadi subsidi silang.
  4. Materi pembelajaran di sekolah tentang IT tidak perlu terlalu canggih, minimal sekali dapat menulis menggunakan editor, dan berkirim e-mail / berdiskusi melalui mailinglist yang akan sangat bermanfaat bagi proses belajar-mengajar.
  5. Bagian terberat dari seluruh proses adalah meyakinkan / memaksa kepala sekolah & yayasan agar menyelenggarakan IT & Internet bagi sekolahnya. Hal ini hanya mungkin dilakukan jika ada surat / SK resmi dari tingkat menteri. Hal ini adalah bagian yang paling berat dari seluruh proses, hal ini merupakan bagian yang sifatnya sangat politis dan berat di tembus.

Dengan tersambungnya sekolah ke Internet, secara tidak langsung akan mempengaruhi orang tua siswa dan masyarakat sekitarnya. Siswa akan bercerita ke orang tua maupun masyarakat sekeliling mereka tentang Internet maupun teknologi informasi.

Harus di akui bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di daerah masih lebih suka media pandang-dengar daripada baca-tulis karena tingkat pendidikan mereka.

Oleh karena itu, untuk mengeffektifkan proses distribusi pengetahuan, ada baiknya kita juga menggunakan media suara sebagai media distribusi pengetahuan. Media suara yang paling murah yang dapat di deploy untuk keperluan tersebut di tingkat daerah / rural. Media suara tersebut adalah pemancar FM atau AM kekuatan rendah 5-10 Watt yang dapat dibuat sendiri, dan di pasang di komunitas / sekolah sebagai media sharing pengetahuan antar komunitas. Biaya / investasi sebuah pemancar AM / FM kekuatan rendah ini relatif rendah & tidak sampai Rp. 1 juta dan dapat di cover oleh komunitas itu sendiri.

Keberadaan pemancar FM / AM ini akan sangat terbantu jika di bangun jaringan antar pemancar tersebut. Supaya rekaman-rekaman acara & sharing pengetahuan yang terjadi bisa di share antar operator pemancar, antar komunitas.

Usaha untuk membangun pemancar broadcast komunitas ini mulai berkembang di Indonesia, walaupun dalam orde ribuan saja. Kita masih perlu lebih banyak lagi pemancar komunitas agar masing-masing komunitas menjadi lebih hidup.

Keberadaan radio komunitas & Internet bagi dunia pendidikan tidak akan dapat berjalan dengan lancar jika kita tidak memberdayakan RT/RW-net dan membebaskan Internet broadband wireless menggunakan frekuensi 2.4GHz & 5.8GHz.

Sayang regulator di Indonesia tidak berfikir panjang, terus terang, di World Summit on Information Society (WSIS) Geneve Geneve 9-12 Desember 2003, banyak rekan-rekan negara lain terkagum, terinspirasi pengalaman Indonesia yang real di lapangan, bertumpu swadana & swadaya masyarakat, praktis hampir tidak di danai oleh pemerintah sama sekali. Alhamdullillah, tidak menambah utangan negara ke World Bank dan IMF. Bahkan masyarakat melakukan investasi sendiri infrastruktur informasinya, yang mereka juluki "RebelNet" the Indonesian community based infrastructure.

Teknologi Wireless Internet di 2.4GHz & 5GHz menjadi tulang pungggung utama-nya. Teknologi ini demikian mudah dan murah untuk di operasikan menyebabkan kemungkinan penetrasi Internet menjadi sangat mudah. Semua investasi dari rakyat, tanpa campur tangan investor asing; tanpa menaikan tarif Telkom.

Pada World Summit on Information Society (WSIS), Indonesia telah berhasil menunjukan dirinya sebagai salah satu pemimpin dunia pembangunan ICT berbasis masyarakat, yang mampu membangun masyarakat informasi-nya menjadi jutaan orang di tahun 2003 dari nihil di tahun 1993. Indonesia adalah satu-satunya negara, tidak ada negara lain di dunia, yang mampu membangun system dalam sekala besar secara swadana & swadaya masyarakat. Tidak heran jika banyak peserta WSIS mengatakan "Indonesia is inspirational!!"

Sayang POSTEL tak terlalu pandai untuk dapat melihat bahwa justru pembebasan pita ISM 2.4GHz dan 5GHz dari berbagai ijin, lisensi maupun kewajiban pembayaran BHP akan menyebabkan (1) lonjakan pengguna Internet ISM band dari satu (1) juta menjadi 17.8 juta pengguna, (2) kenaikan BHP Jasa Internet dari Rp. 1 Milyard/tahun menjadi Rp. 21 Milyard/Tahun, (3) kenaikan PPh Jasa dari Rp. 7 Milyard/tahun menjadi Rp. 128 Milyard/tahun, (4) masukan PPN dari Investasi peralatan dari Rp. 18 Milyard menjadi Rp. 600 Milyard, (5) lonjakan tambahan kebutuhan komputer dari 50.000 unit menjadi mendekati 2 juta unit, (6) lonjakan tambahan kebutuhan peralatan ISM band dari 5.500 unit menjadi mendekati 130.000 unit dan (7) justifikasi migrasi industri antenna & tower menjadi manufaktur peralatan ISM band senilai US$4.5 juta dengan nilai komponen US$650.000 saja. Belum terhitung berbagai efek spin-off di perekonomian Indonesia.

Pengorbanan pemerintah hanya memigrasi existing 2900 microwave link senilai Rp. 626 Milyard yang tercover masukan PPN investasi peralatan yang mendekati Rp. 600 Milyard dan PPh Jasa & BHP Jasa Telekomunikasi. Semua detail perhitungan ada di file impact-ism-unii.xls di bagian file mailing list mastel-anggota, telematika, genetika, indowli di yahoogroups.com. Atau silahkan meminta copy file kepada saya di onno@indo.net.id.

Saya pribadi (dan saya yakin banyak rekan komunitas) tetap berpendapat bahwa (1) band ISM & UNII (2.4 GHz, 5.2GHz dan 5.8GHz) harus dibebaskan, (2) pengguna ISM & UNII band tidak perlu lisensi maupun registrasi, (3) mengacu pada Mutual Recognition Agreement (MRA) semua peralatan yang digunakan tidak perlu di approve oleh POSTEL / Pemerintah, jika sudah di approve oleh FCC & ESTI regulator di negara maju, (4) pengguna di batasi daya pancar pada EIRP 30-36 dBm untuk minimalisasi interferensi dengan ancaman pasal 38 Undang Undang 36 Tahun 1999 dan (5) koordinasi penggunaan frekuensi bersama (frequency sharing & reuse) maupun disain Wireless Metropolitan Area Network (MAN) dilakukan secara lokal oleh komunitas.

Sayang semua hal yang membanggakan di WSIS harus dilakukan dibawah tindakan represif pemerintah, kejaran aparat, sweeping, penyitaan peralatan, berbagai tuduhan pencurian pulsa oleh Telkom. Barangkali memang nasib kita mempunyai regulator telekomunikasi yang tidak cerdas??

Teman-teman seperjuangan mari lanjutkan terus berjihad & berjuang tegakan keadilan, hancurkan kemaksiatan & kebathilan. Mari kita bangun wireless Internet di semua pelosok, di setiap sekolah, di setiap RT/RW, di setiap rumah. Bukan mustahil bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar di tingkat regional Asia Tenggara. Semoga Allah SWT bersama kita. Amien.

PENGGUNAAN ICT DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

PENGGUNAAN ICT DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

Oleh Suparlan *)

Pembaruan dalam bidang pendidikan memerlukan keberanian untuk mencari metode dan membangun paradigma baru. Fenomena yang selalu terjadi dalam dunia pendidikan di era global ialah selalu tertinggalnya perkembangan dunia pendidikan itu sendiri jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi, informasi, dan dunia bisnis yang mengiringinya

(Prof. Suyanto, Ph.D)

Dalam kehidupan kita sering dihadapkan pada dua ujung dikotomi yang dipertentangkan. Misalnya, manakah yang lebih dahulu? Ayam atau telur. Teori atau praktik. Konsep atau implementasinya. Rencana atau pelaksanaannya. Juga dikotomi antara anggaran dan programnya. Anggaran dahulu, baru disusun programnya. Tidak!! Program yang matang dahulu, baru harus disiapkan anggarannya.

Dikotomi ini juga berlaku ketika pemerintah telah memiliki duit yang besar untuk membeli komputer secara besar-besaran. Ada pihak yang kemudian menjadi sangat khawatir kalau komputer yang dibeli nanti akan menjadi barang rongsokan di sekolah. Namun ada pihak lain yang berpendapat bahwa kita harus memiliki program atau konsep yang matang dahulu tentang penggunaan information and communication technology (ICT), baru disediakan anggaran yang cukup untuk membeli perangkat keras (hardware) dan lunaknya (software) secara besar-besaran. Tetapi ada juga yang menganggap bahwa anggaran itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Sekolah Bestari di Malaysia

Rupanya Malaysia memilih pendekatan yang hati-hati. Negeri serumpun ini sangat percaya bahwa “who don’t make a plan, make a fail”. Dengan keyakinan itu, Malaysia telah menyiapkan konsep yang sangat matang dan komplit tentang apa yang disebut sebagai “Smart School” atau dikenal dengan sebutan “Sekolah Bestari”. Secaa konsisten Malaysia juga menyiapkan dana yang memadai untuk pelaksanaan konsep yang amat strategis ini. Bahkan, konsep ini merupakan bagian dari konsep yang lebih besar dari pemerintah Malaysia yang dikenal dengan “Multimedia Super Corridor” (MSC) sebagai megaproject yang amat terkenal di negeri jiran ini. Sekolah Bestari telah dirancang secara matang dengan mempersiapkan sekitar 90 sekolah menengah yang akan diberikan fasilitas ICT secara penuh pada tahun pertama, melatih semua guru dan tenaga administrasi yang akan ditempatkan di sekolah tersebut, menyusun buku pelajaran berbasis ICT untuk empat mata pelajaran teras, yakni (1) Matematika, (2) Sains, (1) Bahasa Inggris, dan (2) Bahasa Malaysia. Keempat mata pelajaran ini telah disiapkan compact disk – read only memory atau CD ROM-nya secara lengkap dan siap pakai. Bahkan, pola pikir ICT ini juga menjadi perhatian dalam rancangan besar-besaran program melek komputer ini oleh pemerintah Malaysia. Dalam konsep skenario rancangan Sekolah Bestari tersebut telah digambarkan kinerja seorang guru (Suparlan: 2006: 104) sebagai ilustrasi sebagai berikut:

Namaku Johan, dan aku mengajar di satu Sekolah Bestari. Pada hari ini, sebagaimana biasa, aku telah menggunakan kartu pintarku untuk mencatat kehadiranku ketika aku masuk sekolah. Ketika bel berbunyi, aku mengecek kehadiran para siswaku dari komputer yang ada di Ruang Guru. Semua siswaku hadir, jadi aku tidak perlu menelepon atau e-mail orangtua untuk menanyakan tentang anak-anaknya.

Pada pagi hari itu, aku pergi ke Ruang Sumber untuk Guru untuk melihat perkembangan tugas-tugas para siswa minggu ini. Siswaku telah membuat saran-saran untuk tugas dan pekerjaan yang harus mereka kerjakan pada minggu berikutnya. Aku telah memberikan persetujuan terhadap sebagian terbesar tugas-tugas itu, dan aku tambahkan beberapa saran untuk beberapa bagian. Seorang rekan guru menyatakan kepada aku bahwa beberapa siswa saya mungkin menghabiskan terlalu banyak waktu untuk proyek sains mereka, dan tidak cukup waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang lainnya. Aku telah mengatakan kepada siswa laki-laki untuk peduli terhadap tugas-tugas itu, dan mereka berjanji akan menghabiskan waktu tambahan untuk menyelesaikan tugas-tugas lainnya ketika mereka harus menyelesaikan proyek sains mereka.

Dalam ilustrasi tersebut dikenal beberapa terminologi yang tidak biasa digunakan dalam model penyelenggaraan lama, seperti kartu pintar, e-mail, dan proyek sains. Beberapa terminilogi itu belum dikenal sebelumnya. Yang dikenal paling-paling adalah penjaga sekolah, buku penghubung, dan pekerjaan rumah. Dalam pembelajaran berbasis teknologi informasi, dapat dipastikan bahwa semua pendidik, peserta didik, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan lainnya harus melek komputer, minimal pengenalan awal tentang komputer. Untuk merancang program Sekolah Bestari, Malaysia telah membentuk satu task force atau satuan tugas untuk merancang konsep, menyiapkan rencana jangka panjang tentang langkah-langkah pelaksanaan konsep tersebut, tetap menyediakan anggarannya meski ketika itu Malaysia juga dilanda krisis moneter. Hasilnya, sekolah uji coba telah berkembang cukup pesat, dan sekolah-sekolah lainnya juga melaksanakannya. Bahkan kini Malaysia mulai memberlakukan konsep satu pelajar satu laptop.

Kecakapan ICT (Information and Communication Technology Skills)

Menginjak abad milenium ketiga ini, banyak kita yang merasa terperangah menghadapi perkembangan ICT yang demikian pesat. Betapa tidak! Setiap orang, siapa pun dia, kini telah menggenggam telepon seluler yang kemampuannya cukup membuat kita tekagum-kagum. Sampai-sampai kantor pos kita merasa kehilangan bisnis inti(core bussiness) yang sebelumnya sempat menjadi andalah. Kita juga terperangah ketika alat yang besarnya benar-benar hanya segenggam tangan itu dapat mengirimkan SMS dengan begitu cepat, dapat merekam video yang bahkan dapat dihubungkan melalui komputer, memiliki sistem alarm, ada penunjuk waktu (jam), dan banyak aplikasi lain yang sebelumnya tidak kita bayangkan. Demikian juga dengan dunia perkomputeran. Dari komputer hitam putih yang kita miliki pada awal tahun 80 – 90-an, kini telah lahir generasi baru komputer lengkap dengan perangkat multimedia yang sangat canggih. Kemampuan untuk menyimpan data dan informasi, serta kecepatan merekam dan menyampaikan informasi, merupakan satu kelebihan perangkat keras ini yang sebelumnya tidak terbayangkan. Bahkan, kini hard disk pun dapat kita bawa kemana kita pergi. Flash disk atau USB dengan kapasitas bukan hanya megabite, tetapi gegabite. Bahkan kadang lebih besar dari hard disk yang ada di dalam hard disk komputer pribadi (personal computer atau PC) yang ada di kantor kita. Komputer pribadi yang ada di kantor dan rumah kita pun kini telah bergeser menuju laptop yang nyaris hanya memiliki berat di bawah dua kilogram kini banyak ditenteng para dosen, pendidik, bahkan kini juga para mahasiswa dan pelajar. Di Malaysia kini memiliki program satu siswa satu laptop. Program itu sesungguhnya telah dimulai oleh Tukul Arwana dalam acara ”Empat Mata” yang demikian paforit itu. Tukul telah memperoleh harga jual yang tinggi dari kejujuran, kesederhaan, spontanitas, keluguan, dan kecerdasannya. Sampai-sampai para anggota DPR pun tidak ingin kalah dengan pelawak-entertainer itu.

Dalam bukunya bertajuk Effective Teaching, Evidence and Practice, Daniel Muijs dan David Reynolds menjelaskan beberapa hal tentang kecakapan ICT. Bagaimana ICT dapat membantu siswa belajar?

Pertama, presenting information. ICT memiliki kemampuan yang sangat luar biasa untuk menyampaikan informasi. Ensiklopedia yang jumlahnya beberapa jilid pun dapat disimpan di hard disk. Bahkan kini telah lahir google0earth yang dapat menunjukkan kepada kita seluruh kawasan di muka bumi kita ini dari hasil foto udara yang amat mengesankan. Dengan membuka www.google.com, data dan informasi akan dengan mudah kita peroleh. Mau membuat grafik dan tabel? Itu sangatlah mudah. Komputer akan dengan senang hati membantu peserta didik untuk membuatkan grafik dan tabel secara otomatis, dengan hanya memasukkan data sesuai dengan yang kita inginkan.

Kedua, quick and automatic completion of routine tasks. Tugas-tugas rutin kita dapat diselesaikan dengan menggunakan bantuan komputer dengan cepat dan otomatis. Mau membuat grafik, membuat paparan yang beranimasi, dan sebainya, dengan mudah dapat dilakukan dengan bantuan komputer.

Ketiga, assessing and handling information. Dengan komputer yang dihubungkan dengan intenet, kita dapat dengan mudah memperoleh dan mengirimkan informasi dengan mudah dan cepat. Melalui jaringan internet, kita dapat memiliki website yang menjangkau ujung dunia mana pun. Jangan heran, anak-anak kita dapat dengan mudah melakukan cheating atau ngobrol dengan temannya yang berada entah di belahan dunia mana.

Masih banyak lagi manfaat yang dapat kita ambil dari penggunaan ICT dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, kemampuan dalam bidang teknologi informasi haruslah dikuasai sebaik mungkin oleh generasi muda kita melalui pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

Bagaimana Dengan Indonesia?

Rupanya Indonesia masih kebingunan untuk memilih paradigma mana yang paling pas dalam menyelesaikan masalah. Program dulu baru anggarannya, atau anggarannya dulu baru programnya. Kebingunan ini mungkin karena trauma lama, yakni adanya program yang bagus ternyata tidak didukung oleh adanya anggaran yang tersedia. Atau trauma lama tentang ketersediaan anggaran untuk suatu program ternyata dilatarbelakangi oleh kepentingan dari pihak-pihak nonkependidikan yang memiliki motif-motif untuk mencari keuntungan. Contoh tentang hal ini terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Program pengadaan alat peraga, pengadaan buku pelajaran satu siswa satu buku, bahkan soal sepatu bagi siswa saja kemudian dengan mudahnya disediakan dananya. Tetapi, anggaran yang tersedia itu tenyata tidak dilengkapi dengan konsep dan perencanaan yang matang. Atau konsep yang ada itu dengan mudahnya tidak dilaksanakan secara konsekuen. Ketentuan judul buku pelajaran harus digunakan di sekolah minimal selama lima tahun pelajaran, sebagai contoh, dengan mudahnya dipungkiri oleh sekolah, karena berbagai alasan seperti adanya perubahan kurikulum. Di Malaysia, penggunaan buku pelajaran menggunakan konsep sepuluh tahunan. Buku pelajaran yang digunakan di sekolah Malaysia digunakan selama sepuluh tahun. Buku pelajaran baru dapat diganti atau direvisi setelah melalui mekanisme sepuluh tahunan itu.

Kembali ke upaya membangun masyarakat melek komputer melalui pendidikan, memang memerlukan anggaran yang amat besar. Tetapi, untuk melaksanakan program penggunaan ICT tersebut, apa yang harus dilakukan pemerintah adalah menyusun naskah akedemis atau pun semacam blue book yang akan digunakan sebagai acuan atau pedoman untuk pelaksanaan program tersebut. Katakanlah bahwa anggaran untuk pelaksanaan program ICT tersebut memang sudah disiapkan sepenuhnya oleh pemerintah. Beberapa pertanyaan yang perlu dijawab dalam naskah akademis itu antara lain adalah sebagai beriktut: (1) sudahkah kita memiliki data yang akurat tentang kondisi dan penggunaan ICT di sekolah-sekolah di Indonesia; (2) kalau sudah, apakah anggaran yang akan disediakan tersebut akan dapat digunakan untuk kegiatan apa saja, pengadaan perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), atau persiapan perangkat otaknya (brainware), misanya untuk pelatihan gurunya; (3) sesuai dengan ketersediaan anggaran tersebut, berapa sekolah, sekolah mana saja yang akan dipersiapkan untuk menjadi uji coba penggunaan ICT, (4) bagaimana desain pembelajaran berbasis komputer yang akan diterapkan; (5) mata pelajaran apa saja yang akan disiapkan dalam bentuk CD ROM; (6) berapa banyak CD ROM buku pelajaran yang harus disiapkan untuk proses pembelajaran berbasis komputer; dan masih banyak pertanyaan lain yang harus dijawab dalam naskah akademis tersebut.

Langkah pertama yang maha penting untuk dapat melaksanakan program melek komputer ini adalah perlunya data yang akurat tentang kondisi dan masalah penggunaan ICT di sekolah. Bukankah perencanaan tanpa data akurat ibarat mimpi di siang hari? Data di Indonesia sering dikenal dengan data karet. Data itu akan membesar dan mengecil sesuai dengan latar belakang kepentingan bagi menyampaikan data.

Refleksi

Para petinggi dalam bidang pendidikan telah merumuskan kebijakan dalam Renstra Dpediknas bahwa sekolah-sekolah kita harus segera melek komputer. Oleh karena itu tidak boleh tidak sekolah harus segera dapat menggunakan ICT, baik dalam proses belajar mengajar maupun dalam urusan teknis administratifnya. Jika pun karena satu dan lain hal anggaran untuk itu telah dapat disediakan, maka langkah yang segera harus disusun adalah langkah-langkah strategis untuk pemanfaatan perangat itu secara optimal. Misalnya, pelatihan guru dalam pembelajaran menggunakan komputer merupakan langkah awal yang harus dilakukan. Tentu saja, sosialisasi tentang penggunaan ICT ini harus gencar dilakukan. Sebagai contoh, pelatihan tentang penggunaan komputer dalam pembelajaran matematika telah dirintis dan dilaksanakan oleh Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Tenaga Kependidikan (P4TK) Matematika, Yogyakarta. Bahkan P4TK ini juga telah mengembangkan beberapa CD pembelajaran matematika. Untuk kemudian pemerintah akan mengadakan dan memberikan komputer kepada sekolah, maka langkah yang harus dilakukan adalam pemetaan penggunaan komputer di sekolah. Sekolah mana saja yang akan dijadikan model, syarat apa yang harus dimilikinya, dan sederet pertanyaan lain harus dapat dijawab dari kegiatan pemetaan tersebut. Melalui langkah-langkah tersebut, penggunaan ICT dalam pembelajaran di sekolah dapat dimulai. Memang bukan dari nol, tetapi harus melalui potensi yang telah dimiliki. Insyaallah.

Selasa, 10 Juni 2008

Pelatihan Tenaga Administrasi Sekolah Dalam Penggunaan Program Information Communication Technologi (ICT)

Tanggal 7-8 Juni 2008 saya mengikuti pelatihan Tenaga Administrasi Sekolah Dalam Penggunaan Program Information Communication Technologi (ICT), yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Banten dan panitianya dari UNTIRTA. dari materi Teori dan praktek yang dipaparkan sangat jauh dari tema pelatihan. seharusnya materi yang disampaikan bagaimana kita sebagai tenaga administrasi sekolah berimigrasi dari sistem manual ke sistem komputerisasi dengan di lengkapi contoh-contoh kongkrit pekerjaan tenaga administrasi. salah satu penyampai materi yang mengisi tentang pengenalan komputer secara detail dari sampai gambar-gambarnya lengkap. katanyanya beliau menurut ketua panitia KAMI DI DATANGKAN KE SINI MENGIKUTI PELATIHAN TUJUANNYA HANYA UNTUK MEMBEDAKAN MANA ITU KOMPOR DAN MANA ITU KOMPUTER. terus terang ini bukan sebuah kemajuan tapi sebuah kemunduran tentang ICT. atau malah bapak pembawa materi yang baru kenal komputer. sehingga dalam penyampaian materinya pada saat membahas tentang virus komputer terasa sangat takut sekali sama virus.

seharunya materi yang disampaikan khusus teori kami di ajarkan bagaimana mengolah data administrasi yang pastinya umumnya menggunakan MS. Excel kami diajarkan sistem pengolah data menggunakan databases contohnya MS. Acces atau kalo ingin agak maju bahasa pemograman. seharusnya itu yg di demontrasinya dalam penyampaian materi. tadinya harapan kami Bapak Panitia meluangkan waktu membuat sistem database atau Sistem Informasi Sekolah berbasis komputerisasi, dan dibagikan kepada pesertas secara gratis.

untuk materi praktek malah yang diajarkan power poin dan blog, mungkin panitia gak mau pusing kali ya. power poin dan blog tidak terlalu berarti bagi tenaga administrasi.

saran dan permintaan buat dinas pendidikan provinsi banten sekiranya membuat sistem informasi sekolah berbasis komputerisasi dan bagikan ke sekolah-sekolah. salah satu nya Pengolahan Perpustakaan Berbasis komputerisasi, Database Siswa, Data base Nilai. DLL. kumpulkan Programer Handal untuk membuat, selesai bagikan ke sekolah.